Kuliah Pakar di Universitas Malahayati membahas peran komunikasi digital dalam menghadapi hoaks kesehatan dan meningkatkan kepercayaan publik.
BANDAR LAMPUNG, Kacakmedia.com – Praktik kesehatan masyarakat di era digital tidak lagi hanya bergantung pada penyampaian informasi, tetapi juga kemampuan membangun kepercayaan publik melalui komunikasi yang persuasif dan kredibel. Hal tersebut menjadi fokus utama yang disampaikan Dr. Razie Razak, S.Sos., M.I.Kom., CIQaR., CIQnR dalam kegiatan Kuliah Pakar Program Studi Kesehatan Masyarakat Universitas Malahayati, Selasa (2/6/2026).
Dalam kegiatan bertema “Komunikasi Persuasif dalam Praktik Kesehatan Masyarakat: Strategi Membangun Kepercayaan Masyarakat di Era Digital”, Dr. Razie menjelaskan bahwa komunikasi persuasif merupakan upaya sadar untuk memengaruhi sikap, keyakinan, dan perilaku masyarakat melalui penyampaian pesan yang tepat, tanpa unsur paksaan.
Menurut dosen Digital Public Relations Telkom University tersebut, tantangan komunikasi kesehatan saat ini semakin kompleks karena masyarakat dibanjiri informasi dari berbagai platform digital. Kondisi tersebut membuat tenaga kesehatan harus mampu membangun kredibilitas sekaligus menyampaikan pesan yang mudah dipahami masyarakat.
“Kepercayaan publik menjadi modal utama dalam komunikasi kesehatan. Informasi yang benar belum tentu diterima apabila komunikator tidak memiliki kredibilitas dan strategi penyampaian yang tepat,” ujar Razie.
Dalam pemaparannya, ia menjelaskan berbagai konsep komunikasi persuasif, mulai dari pembentukan citra (shaping), penguatan pandangan yang sudah ada (reinforcing), hingga perubahan sikap dan perilaku (changing). Selain itu, peserta juga diperkenalkan dengan berbagai teknik penyusunan pesan, framing, storytelling, serta penggunaan narasi yang efektif untuk meningkatkan penerimaan pesan kesehatan.
Razie juga menyoroti pentingnya pemanfaatan media sosial sebagai sarana edukasi kesehatan masyarakat. Menurutnya, penyampaian pesan kesehatan harus mampu bersaing dengan berbagai informasi lain yang beredar di ruang digital, termasuk misinformasi dan hoaks kesehatan.
“Kita tidak cukup hanya menyampaikan data. Pesan kesehatan harus dikemas dengan narasi yang kuat, relevan, dan mampu menyentuh pengalaman masyarakat agar lebih mudah diterima,” jelasnya.
Kegiatan yang dimoderatori oleh Okta Nursadia berlangsung interaktif dengan sesi diskusi dan tanya jawab. Mahasiswa aktif mengajukan pertanyaan mengenai strategi menghadapi hoaks kesehatan, penggunaan media sosial dalam kampanye kesehatan, hingga cara membangun kepercayaan masyarakat terhadap program-program kesehatan pemerintah.
Sementara itu, Dekan Fakultas Kesehatan Universitas Malahayati, Dr. Lolita Sary, M.Kes, dalam sambutannya menekankan pentingnya kemampuan komunikasi bagi tenaga kesehatan masyarakat di tengah derasnya arus informasi digital.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa diharapkan mampu memahami komunikasi persuasif sebagai salah satu kompetensi penting dalam praktik kesehatan masyarakat serta menjadi agen perubahan yang dapat menyampaikan informasi kesehatan secara efektif, edukatif, dan terpercaya kepada masyarakat.