Pemerintah Pertahankan Tarif Listrik Triwulan III 2026, Qodari: Demi Jaga
Kemenpora dan NPC Indonesia Cetak 72 Klasifier Baru untuk Perkuat Pengembangan Olahraga Disabilitas
SOLO, Kacakmedia.com – Sebanyak 72 tenaga klasifier olahraga disabilitas fisik resmi dinyatakan lulus dan memperoleh sertifikasi setelah mengikuti pelatihan klasifikasi olahraga disabilitas tingkat nasional yang diselenggarakan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora RI) bekerja sama dengan National Paralympic Committee (NPC) Indonesia.
Program tersebut menjadi langkah strategis untuk memperluas pemerataan tenaga klasifikasi olahraga disabilitas di berbagai daerah sekaligus mendukung pembinaan atlet menuju ajang internasional, termasuk Paralimpiade 2028.
Baca juga:
NOC Indonesia Tegaskan Kepatuhan pada Olympic Charter dalam Sidang PTUN Terkait Perkara Pertina
Pelatihan dibagi menjadi dua wilayah. Untuk Indonesia bagian barat, kegiatan berlangsung di Kota Solo pada 19–22 Mei 2026 dengan diikuti 45 peserta dan seluruhnya dinyatakan lulus. Sementara pelatihan wilayah Indonesia bagian timur dilaksanakan di Makassar pada 29 Juni hingga 2 Juli 2026 dengan diikuti 32 peserta, di mana 27 peserta berhasil memperoleh sertifikasi.
Secara keseluruhan, dari 77 peserta yang berasal dari 28 provinsi, sebanyak 72 orang berhasil menjadi klasifier olahraga disabilitas kategori disabilitas fisik.
Baca juga:
Nelly Syara Debut Lewat Single “Tak Harus Sempurna”, Angkat Pesan Menerima Diri Apa Adanya
Pelaksana Tugas Asisten Deputi Tenaga dan Organisasi Keolahragaan Prestasi Kemenpora, Leny Kurnia, mengatakan kehadiran tenaga klasifier baru diharapkan mampu mempercepat pemerataan layanan klasifikasi olahraga disabilitas di seluruh Indonesia.
“Output dari kegiatan ini, kami ingin ada tenaga klasifier baru yang berkompeten untuk melakukan klasifikasi di daerah-daerah, khususnya daerah yang belum ada klasifier tersertifikasi, sehingga ada pemerataan di setiap provinsi untuk memiliki klasifier olahraga disabilitas,” ujar Leny, Kamis (2/7/2026).
Menurutnya, keberadaan klasifier menjadi elemen penting dalam sistem pembinaan olahraga disabilitas karena proses klasifikasi menentukan kesesuaian atlet dengan kategori pertandingan yang akan diikuti.
Baca juga:
BPS: Inflasi Tahunan Juni 2026 Capai 3,34 Persen, Transportasi Jadi Penyumbang Terbesar
Sementara itu, Chief Classifier NPC Indonesia, Dr. dr. Retno Setianing, Sp.KFR (K), menjelaskan bahwa setiap atlet penyandang disabilitas wajib melewati proses klasifikasi sebelum dapat mengikuti kompetisi resmi.
Ia menilai pemerataan tenaga klasifier akan membuka peluang lebih besar bagi penyandang disabilitas di berbagai daerah untuk mengembangkan potensi olahraga sesuai kondisi fisiknya.
“Klasifikasi menjadi hal yang sangat penting dalam olahraga disabilitas karena menjadi pondasi untuk pertandingan yang setara, sehingga tidak ada pertandingan tanpa proses klasifikasi,” jelas Retno.
Retno menambahkan, keberadaan klasifier di daerah akan membantu proses identifikasi calon atlet sejak awal sehingga pembinaan dapat dilakukan secara lebih tepat dan efektif.
Menurutnya, langkah tersebut juga menjadi bagian dari persiapan Indonesia dalam membangun regenerasi atlet menuju Paralimpiade 2028.
Baca juga:
BNPB Kerahkan Helikopter Water Bombing Padamkan Kebakaran TPA Jatiwaringin Tangerang
Salah seorang peserta pelatihan asal Bali, dr. Made Dwi Puja Setiawan, Sp.KFR., M.Ked.Klin., AIFO-K, mengaku memperoleh banyak pengetahuan baru selama mengikuti pelatihan tersebut.
Ia menilai program sertifikasi klasifier sangat penting agar penyandang disabilitas di berbagai daerah memiliki akses yang sama terhadap pembinaan olahraga.
“Pelatihan ini sangat penting untuk diberikan kepada tenaga klasifier dan disebar ke semua daerah karena penyandang disabilitas tidak hanya berada di kota-kota besar,” ujarnya.
Made berharap program serupa dapat terus berlanjut, termasuk pelatihan yang lebih spesifik sesuai cabang olahraga, sehingga para klasifier dapat terus mengikuti perkembangan ilmu dan standar klasifikasi internasional.
Dengan bertambahnya 72 tenaga klasifier baru, Kemenpora dan NPC Indonesia berharap sistem pembinaan olahraga disabilitas di Indonesia semakin merata, profesional, dan mampu melahirkan lebih banyak atlet berprestasi di tingkat internasional.