IPA Convex 2026: Industri Hulu Migas Hadapi Tantangan Global, Potensi Indonesia Dinilai Masih Besar
JAKARTA, kacakmedia.com – Industri hulu minyak dan gas bumi (migas) nasional menghadapi tantangan yang semakin kompleks di tengah dinamika global. Meski demikian, Indonesia dinilai masih memiliki potensi migas besar yang mampu menopang ketahanan energi nasional dalam jangka panjang.
Tantangan industri migas saat ini tidak hanya berasal dari penurunan alami produksi lapangan tua, tetapi juga dipengaruhi ketidakpastian geopolitik global yang berdampak terhadap harga energi dan iklim investasi.
Namun di balik kondisi tersebut, sejumlah pelaku industri menilai Indonesia masih menyimpan peluang besar, terutama di wilayah laut dalam dan kawasan timur Indonesia yang belum sepenuhnya tereksplorasi.
Wakil Direktur Utama PT Pertamina, Oki Muraza, mengatakan penguatan kemitraan, dukungan pemerintah, dan pengembangan teknologi menjadi strategi utama menghadapi tantangan industri migas saat ini.
“Kita punya kemitraan yang kuat, misalnya bersama PETRONAS. Kolaborasi dengan pemerintah juga dapat memberikan tambahan fiskal, mempermudah perizinan, serta menurunkan risiko usaha melalui penggunaan teknologi,” ujarnya dalam sesi Global Executive Talk pada ajang IPA Convention and Exhibition 2026.
Sementara itu, President and Group CEO PETRONAS, Tengku Muhammad Taufik, mengungkapkan investasi hulu migas global pada 2025 diperkirakan turun sekitar 6 persen.
Menurutnya, sekitar 40 persen dari total investasi migas dunia digunakan untuk menahan penurunan produksi di lapangan migas yang sudah beroperasi.
Direktur dan CEO Medco Energi, Roberto Lorato, menilai pengelolaan industri migas Indonesia mulai bergerak ke arah yang lebih positif.
“Indonesia menyadari potensinya masih sangat besar. Karena itu eksplorasi harus terus dilakukan dengan pengembangan jangka panjang dan pendekatan yang lebih fleksibel,” katanya.
Di sisi lain, pemanfaatan teknologi seperti enhanced oil recovery (EOR), digitalisasi operasi, artificial intelligence (AI), hingga teknologi pengeboran modern mulai menjadi solusi untuk meningkatkan produktivitas sekaligus menekan biaya operasi industri migas.
Potensi migas Indonesia juga terlihat dari sejumlah penemuan cadangan baru, termasuk di wilayah Andaman.
CEO Mubadala Energy, Mansoor Muhamed Al Hamed, menyebut penemuan migas di wilayah Tangkulo dan Southwest Andaman menjadi pencapaian penting bagi perusahaan setelah 15 tahun beroperasi di Indonesia.
“Ketika nantinya mulai berproduksi, hal ini akan menjadikan kami salah satu produsen terbesar di Indonesia,” ujarnya.
Meski industri migas menghadapi tantangan besar, sektor ini dinilai masih memiliki peran strategis dalam menjaga ketahanan energi nasional. Dengan potensi sumber daya yang besar dan dukungan kebijakan yang tepat, Indonesia diyakini mampu memperkuat posisinya sebagai salah satu produsen energi utama di kawasan.